Timbullah perasaanku padanya. Layaknya benih yang langsung menjulur serta berkembang dengan cepatnya, secepat sinar matahari menghujani bumi. Magma didalam hatiku mulai bergejolak tidak karuan. Bergerak ke kanan ke kiri ke atas ke bawah menghancurkan sendi-sendi ruangan sempit. Menggetarkan begitu cepat seluruh dinding-dinding jantung. Meremukkan tulang-tulang bajaku. Meletus-letuslah, berkobar, hingga seluruh duniaku berubah, hingga hujan bercampur berubah warna. Cairan-cairan perasaan yang telah meleleh hingga kini dan tak akan padam. Perasaan itulah cinta. Yang terlahir dari keyakinan dan komitmen.
Tapi, cairan-cairan yang keluar tak terbuang begitu saja. Kurajut, kuambil serpihan demi serpihan cairan-cairan itu yang telah mengeras sekuat baja. Aku susun hingga menjadi persinggahan. Disitulah dia akan berteduh. Disitulah dia mencari perlindungan. Disitulah dia mencari ketentraman, kedamaian, keabadian, keajaiban, kehangatan. Disitulah menjadi dunianya, dan dialah kehidupanku.
Kubangun singgasana itu tuk yang begitu kuat dan kokoh. Dan kuukir setiap dindingnya dengan ikrar suci, dihadapan para malaikat bersama makhluk-mkahlukNya, dengan seizin Allah: "Saya terima nikahnya Anna Aisyiyah binti Bambang Hidayat dengan maskawin uang duaratus ribu rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai". Tak hanya aku serukan hafalkan tapi aku renungi, pahami dan kupegang hingga kapanpun.
Anna Aisyiyah Blog
Langganan:
Komentar (Atom)


